INILAHCOM, Jakarta - Ketua Yayasan Batik Indonesia, Nita Kenzo menceritakan secara detail bagaimana perjuangannya untuk memahami dan melestarikan Batik Indonesia.
Dia bercerita, dari awal pertama kali menyentuh Batik, sejak dirinya masih usia muda atau bisa dibilang saat masih kecil sudah kenal Batik. Hal tersebut karena sang ibu setiap hari sudah terbiasa mengenakan baju Batik.
"Beliau dulu di Pekalongan dan mengetahui krisis Batik. Sampai pembatik Pekalongan tidak lagi menemukan kain. Kemudian, mereka menjual kain batik yang menjadi simpenan. Akhirnya saya mendapatkan manfaat yang besar dari hal ini. Saya cinta dengan Batik karena kebiasaan," papar Ketua Yayasan Batik Indonesia, Nita Kenzo saat ditemui di acara Kafe BCA VI #BelajarLebihBaik dengan tema Khasanah Batik Pesona Budaya, Jakarta, Selasa (23/05/2017).
Masih menurutnya, ada perbedaan yang sangat signifikan dan dapat terlihat dari kain Batik dengan kain bermotif Batik. Hal ini yang membedakan adalah proses pembuatannya.
"Kalau kain Batik itu negatif printing. Kalau kain bermotif batik adalah printing positif. Ini adalah proses yang berbeda," tambahnya.
Karena itu, agar Batik tidak punah, dia bersama yayasannya, terus melakukan kegiatan sosial yang sangat positif untuk melestarikan Batik agar tidak punah. Salah satunya adalah ketika gempa Yogyakarta pada 2006.
"Kebetulan suami saya tinggal di Jawa Tengah. Kami mengangkat Batik rakyat dari Kebumen, Yogyakarta, dll. Gempa Yogyakarta itu kami melakukan pendampingan di Imogiri. akhirnya kami membuat membangkitkan kembali Batik imogiri agar tidak punah," ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, hingga saat ini pembatik yang benar - benar melakukan proses membatik dengan tulis sangat sedikit. Nita menambahkan, bahwa pembatik saat ini hanya tersisa para orangtua yang memiliki usia yang sudah tidak muda lain.
"Pembatik yang sebenarnya adalah orang yang sudah tua sekali. Kalau anak mudanya, malah inginnya menjadi penjaga toko, bekerja dengan komputer, dan lainnya. Padahal mereka kehilangan banyak waktu dan menghilangkan tradisi dari turunannya karena orangtua sudah menjadi pembatik. Karena itu, kami memberikan kainnya, alat, dan pola batik agar para pembatik tidak hilang dan terus mengalir generasi muda untuk membatik," ungkapnya.
Memang tidak mudah untuk melestarikan Batik hingga mendapat perhatian banyak orang. Nita mengaku awalnya mengikuti pameran Batik pada 2009 di Jakarta. Seiring berjalannya waktu, Batik yang dia kembangkan mendapat kesempatan untuk ditampilkan di pameran luar negeri.
"Animonya sangat luar biasa. ini menggunakan bahan alami, karena saat itu alam sedang tidak baik. Kemudian, kami ikut mengikuti pameran di luar negeri. Dari situ, kami sadari bahwa ini peluang untuk Indonesia. Pasar luar negeri justru malah mengapresiasi sekali dengan batik Indonesia dengan warna - warna alamnya. Kami juga bermitra dengan para petani indigofera. Inilah peluang - peluang yang bisa menjadi lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat Indonesia," tutupnya. (tka)
Cerita Sukses Nita Kenzo Dalam Menggeluti Batik
Baca Selanjutnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar