<B>INILAHCOM, Jakarta - Petani Indonesia mengalami regenerasi yang lambat. Karena sekitar 61 persen petani di Indonesia berusia di atas 45 tahun. Lantas, kemana anak muda sebagai salah satu generasi penerus? </B>
Indonesia menghadapi masalah regenerasi petani yang lambat karena kurangnya minat dari para generasi muda. Melibatkan kaum muda di bidang pertanian menjadi prioritas jika ingin mencapai ketahanan pangan nasional. Topik tersebut diangkat dalam acara talkshow Go-Young Farmers yang merupakan bagian dari perhelatan The Jakarta Food Security Summit 2018 yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN), JCC, Jakarta, Kamis, (08/03/2018).
Hadir sebagai panelis pada acara tersebut adalah Dr. Bayu Krisnamurthi, Dosen IPB, Adi Pramudya, Petani Muda Terbaik 2016 dan Jens Hartmann, Head of Region APAC 1 Crop Science Division, Bayer, dimana mereka bersepakat bahwa Indonesia harus meningkatkan daya tarik profesi di bidang pertanian agar dapat mengajak kaum muda terlibat di pertanian, salah satunya adalah melalui modernisasi pertanian.
"Indonesia akan mengalami periode bonus demografi, dimana jumlah orang produktif lebih tinggi daripada jumlah lansia dan anak-anak. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk mengenalkan pertanian kepada generasi muda, jika tidak pertanian akan mengalami kekurangan sumber daya manusia dan akan sulit bagi kita untuk mencapai ketahanan pangan nasional," kata Dr. Bayu Krishnamurthi.
Generasi muda adalah kunci, dan pertanian modern adalah solusi untuk menarik generasi muda untuk terlibat dalam bisnis pertanian. Pertanian digital adalah salah satu alat pertanian modern yang dapat mengubah pertanian menjadi bisnis yang menarik.
"Digital Farming merupakan teknologi yang dapat memudahkan pengambilan keputusan secara praktis dan bermanfaat, teknologi ini membuat manajemen risiko di pertanian menjadi lebih mudah dan membantu meningkatkan potensi keuntungan secara berkelanjutan," papar Jens Hartmann.
Masih menurutnya, digital Farming dapat membantu meramal cuaca, menetapkan waktu dan volume yang tepat dalam mengaplikasikan produk perlindungan tanaman dan pemupukan, dan rekomendasi dapat dibuat khusus bagi masing-masing petani di lahan yang berbeda. Pertanian digital juga memungkinkan peningkatan hasil panen dengan meminimalkan dampak pertanian pada lingkungan hidup.
Jens Hartmann menjelaskan tentang "Program Pelatihan Kejuruan Pertanian di Merauke oleh Bayer". Program yang dikembangkan oleh Bayer ini memberi para siswa praktik industri lapangan (Prakerin) selama 3 bulan. Para siswa melakukan praktik untuk menjadi usahawan di bidang pertanian yang dibimbing oleh praktisi profesional.
"11 persen lulusan sekolah menengah kejuruan akhirnya menganggur. Bayer merancang program ini bagi siswa sekolah menengah kejuruan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan mereka agar selaras dengan standar industri. Modul pelatihan dalam program ini dirancang bersama oleh industri dan sekolah kejuruan,"tambah Jens Hartmaan.
Adi Pramudya, sebagai Petani Muda Terbaik 2016 mengatakan, pertanian adalah bisnis berisiko tinggi karena sulit diprediksi. Suatu hari mungkin kita menganggap tanaman tumbuh dengan baik namun bisa saja pada keesokan harinya terjadi hujan lebat yang merusak tanaman.
"Dengan teknologi, kita dapat menggunakan berbagai aplikasi untuk meminimalkan risiko yang ada. Ini memungkinkan kita untuk memprediksi kemungkinan hujan, serangan hama dan penyakit. Ini juga membantu memberi tahu kita kapan harus mengaplikasikan pupuk dan perlindungan tanaman. Teknologi ini penting untuk mengambil keputusan secara lebih tajam, cerdas, mudah, dimanapun dan kapanpun. Pertanian digital sangat ideal bagi generasi muda," ungkap Adi Pramudya.(tka)
Ini Cara Tarik Minat Anak Muda Jadi Petani
Baca Selanjutnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar