<B>INILAHCOM, Jakarta - Gizi buruk masih menjadi perhatian untuk kasus perkembangan anak. Gangguan gizi pada anak terutama pada janin, sangat berpengaruh pada jangka panjang dan pendek. </B>
Menurut Dr. Elvina Karyadi, M.Sc, Ph.D, Sp.GK, faktor genetic yang menyebabkan kekurangan gizi bukan sepenuhnya menjadi salah satu faktor penentu. “Gizi buruk mungkin hampir tidak ada, tapi masalah kita stunting; sepertiga balita kita itu stunting,” ujar dr. Elvina seperti yang dikutip dari siaran pers yang diterima pada acara Forum Ngobras, Jakarta, baru - baru ini.
Genetic jangan dikambinghitamkan bila anak penting. Tumbuh kembang anak didukung oleh stimulasi, dukungan sosial dan genetic. Bayi usia 0 – 1 tahun termasuk golongan rentan karena cadangan nutrisinya rendah, sedangkan pertumbuhan dan perkembangannya demikian cepat. Karenanya, 1000 hari pertama kehidupan harus jadi perhatian.
Gangguan gizi pada masa janin dan usia dini berdampak jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek berupa gangguan pertumbuhan otak, pertumbuhan tidak optimal, dan gangguan metabolic programming.
Dalam jangka panjang, kemampuan kognitif terganggu, dan tubuh pendek. Metabolic programming perlu diwaspadai.
“Bila anak lahir dengan berat kurang 2.500 gr, saat dewasa banyak yang kena obesitas, diabetes, sakit jantung, stroke, dan lain-lain karena saat alhir, organnya tidak sempurna,” tambah dr. Elvina.
Metabolisme tubuhnya pun lambat sehingga lebih rentan terhadap obesitas. Penelitian menemukan, stunting berhubungan dengan kecerdasan anak. Pada anak stunting, otak tidak padat bila dibandingkan dengan anak normal.
Sel-sel otaknya pun pendek-pendek dan terputus. Berbeda dengan sel otak normal yang panjang-panjang.(tka)
Gangguan Gizi Pada Anak Berefek Panjang dan Pendek
Baca Selanjutnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar