INILAHCOM, Jakarta – Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan, aksesibilitas menjadi tembok perintang halang yang tidak mudah ditaklukkan. Selama ini wisatawan mancanegara (Wisman) datang 75% melalui udara, hanya 24% yang menyeberang via Batam-Bintan, dan 1% pelintas batas.
“Kami sadar, aksesibilitas adalah tantangangan. Kapasitas tempat duduk yang ada saat ini, hanya mampu menampung jumlah wisman 12 juta, dan itu adalah target tahun ini, 2016. Saya sudah berhitung, ini adalah problem besar Pariwisata saat ini,” ujar Menpar Arief Yahya saat berkunjung dan menemui Menhub Budi Karya Sumadi.
Untuk target 12 juta di 2016 saja, saat ini dibutuhkan seats capacity 19,5 juta. Tahun depan, 2017 target 15 juta maka harus ada penambahan 4 juta seats baru, atau harus tersedia 23,5 juta seats. Lalu di 2018 target kunjungan 18 juta, membutuhkan tambahan lagi 3,5 juta seats atau 27 juta seats. Dan di 2019 dengan target 20 juta, maka seats yang butuhkan adalah 30 juta.
“Saya sudah menghitung, kalau dengan cara-cara biasa, pasti tidak akan ketemu target itu. Untuk mencapai target yang luar biasa, dibutuhkan cara yang tidak biasa. Saya sebut kuncinya ada 3A, Airlines, Airport, dan Authority. Itulah mengapa kami harus duduk bersama dengan Kemenhub,” kata Menpar Arief Yahya.
Ia mengakui tak bisa berharap membangun infrastruktur baru, ataupun bandara baru karena memang waktunya tidak akan terkejar. Karena itu harus dicari sisi lain yang efektif menambah seats capacity. “Seperti menambah slots time, gunakan IT dan tingkatkan kualitas SDM, serta menderegulasi terutama di beberapa bandara gemuk, seperti Denpasar, Jakarta dan Jogjakarta,” kata Arief Yahya.
Tahap berikutnya adalah pengembangan fisik bandara secara terbatas. Misalnya peningatan slot air segment, slot ground segment. Bandara gemuk diprioritaskan pesawat-pesawat berbadan lebar yang mengangkut lebih banyak passengers. IT untuk mengatur pergerakan pesawat, ground handling, perluasan rapid exit, taxi way, parking area dan lainnya.
Untuk sampai ke 20 juta di 2019, harus ada dukungan operasional bandara baru di 10 top destinasi. Juga perluasan bandara atau pembangunan bandara baru, untuk 2 tahun ke depan. “Khusus 10 Bali baru itu semuanya harus memiliki bandara internasional, sehingga bisa direct flights menuju ke destinasi tersebut, seperti Silangit, Tanjung Pandan, Labuan Bajo, Matahora, Morotai,” kata Arief Yahya.
Sinkronisasi antara Kemenhub dan Kemenpar itu, direspons positif oleh Menhub Budi Karya Sumadi yang memiliki otoritas pada jasa penerbangan sipil. Menhub setuju dengan optimalisasi akses itu, dan langsung berkoordinasi dengan para pejabat Eselon I dan II-nya untuk usulan tersebut.
Arief Yahya juga mengusulkan beberapa point teknis yang sudah dia kumpulkan dari roadshow ke beberapa airlines dan pengelola bandara sejak bulan lalu. Dia berharap Kemenhub menindaklanjuti beberapa listing yang mendesak.
Diantaranya, dukungan terhadap route-development plan Indonesia Air Asia untuk mendatangkan 6 juta wisman di 2019. “Saat ini Air Asia Group merupakan kontributor terbesar mendatangkan wisman ke Indonesia,” ujar Arief Yahya.
Lalu, memberikan kemudahan atau penyederhanaan perizinan bagi Airlines untuk pembukaan rute baru, termasuk charter flight. Dia mencontohkan, informasi dari beberapa airlines yang hendak membuka jalur penerbangan ke destinasi wisata, diharuskan melampirkan business plannya, sehingga memperlama. “Saat ini kita membutuhkan flight. Mereka pasti sudah punya hitungan. Ini yang namanya suplay lead demand. Ini perlu didereguasi,” katanya.
Kedua, bandara-bandara yang heavily congested, diharapkan bisa beroperasi 24 jam, sehingga bisa didarati pesawat-pesawat di jam berapa saja. Ketiga, peninjauan kembali biaya layanan yang terlalu memberatkan Airlines untuk mendorong jumlah.
Keempat, pikirkan privatisasi bandara sesuai UU no.1/2009, seperti Indonesia Air Asia, Lion, Sriwijaya dan lainnya. Kelima, optimalisasi slots di bandara dengan demand tinggi, seperti: DPS, JOG, dan SUB. Keenam, mempercepat Air Talk untuk mendapatkan tambahan kapasitas dari negara dengan growth tinggi, seperti UAE. [*]
Menpar: Aksesibilitas, Problem Besar Pariwisata
Baca Selanjutnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar