INILAHCOM, Jakarta - Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan tidak akan mengubah target 20 juta wisatawan. Karena itu ia terus membuat terobosan go digital, airlines atau akses, dan homestay atau amenitas untuk mencapai target itu.
“Jangan menurunkan target 20 juta, karena kita tidak mau jadi bangsa yang kalah!,” ujar Arif Yahya saat wawancara DBS to The Point, di studio BeritaSatu TV, Jakarta, kemarin.
Menpar tak mau menurunkan target karena pertama, target itu juga dibuat Presiden Joko Widodo. Kedua, meskipun fantastis, angka proyeksi 2019 itu masih kalah dari Malaysia dan Thailand. “Jadi kita jangan berdebat soal 20 juta, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kita harus kejar target itu,” jawab Arief Yahya ketika ditanya soal optimisme menuju target itu.
Dia mengakui, bahwa Thailand dan Malaysia itu kenyataannya lebih maju, lebih banyak jumlah wismannya. Indonesia masih 10 juta, Malaysia sudah 25 juta dan Thailand 30 juta.
Host acara berdurasi 60 menit yang juga pemimpin redaksi televisi berita itu, Don Bosco Selamun bertanya dengan cara apa mengejar targeti itu? “Itulah yang membuat saya banyak mengerjakan tugas yang sebenarnya bukan pariwisata. Tapi kalau basic-nya tidak diperbaiki, maka tidak akan mencapainya. Yakni Go Digital, Airlines atau Akses, dan Homestay atau Amenitas,” ungkapnya.
Soal Akses, lanjut Menpar, ia harus roadshow ke Airline (Garuda Indonesia, Air Asia, Lion Group, Sriwijaya), juga ke Airport (Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II), untuk memastikan seats capacity-nya mampu mengangkut wisman dengan target 20 juta itu.
Arief Yahya memang sudah berhitung, untuk mengejar target 20 juta, dibutuhkan seats pesawat terbang 30 juta di 2019. Saat ini 2016, targetnya 12 juta, seat capacity 19 juta, masih cukup. Tahun depan, harus sudah menaikkan daya tampung tempat duduk pesawat yang masuk ke Indonesia 22 juta, dan masih defisit 3 juta.
Darimana mendapatkannya? “Itulah mengapa saya sisir satu per satu, sampai urusan slots bandara, menambah jam operasional bandara, menaikkan status bandara menjadi internasional, melobi airlines untuk direct flight, menggunakan pesawat berbadan lebar, dan lainnya. Itulah mengapa saya harus keliling,” ungkapnya.
Arif juga memaparkan seputar Go Digital be The Best, satu program andalan Kemenpar yang dipercaya sebagai cara yang paling masuk akal untuk menggapai target 20 juta wisman di 2019. Mengapa digital? “70% travellers itu search and share dengan digital online. Anak-anak muda sudah bertransformasi budaya, menuju digital lifestyle. Ketika the future customers sudah berubah, kita juga harus mengikuti arah perubahan, jika ingin memenangkan persaingan,” kata Arief Yahya.
Kalau begitu, media promosinya juga lebih banyak dialokasikan ke digital? “Sudah pasti itu. Kalau tahun pertama 60% media konvensional, 40% digital, tahun kedua sudah, 50:50, tahun ketiga sudah terbalik 40:60 dan tahun keempat 30:70. Konvensional media tidak bisa diabaikan, karena untuk awareness. Saya yakin konsep convergency media, dan hanya digital yang bisa menggabungkan semua, dari search, book sampai pay,” jelasnya.
Menpar pun mendorong terbentuknya ITX, Indonesia Travel Xchange, semacam pasar digital yang mempertemukan antara supplay side dan demand dalam satu platform. ITX ini adalah upaya Kemenpar untuk menjawab kegalauan pelaku bisnis dan industri pariwisata yang tergerus oleh kecepatan OTA –Online Travel Agent, yang lebih gesit, lebih cepat, lebih menarik, dan lebih atraktif.
“Kami membuatkan pasar digitalnya. Kami buatkan template untuk website yang standar, jika mereka belum punya media online-nya, sebagai own media mereka. Kami siapkan booking system dan payment system-nya, yang kalau membangun sendiri itu bisa menghabiskan Rp 300 sampai Rp 400 juta. Di ITX ini free, dan diberi asistensi dengan free juga,” ungkap Arief Yahya.
Arief Yahya Tegaskan Tak Akan Ubah Target Wisman
Baca Selanjutnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar