Laman

Jumat, 09 September 2016

Surga Baru Petualang: Jelajah Tanah Humba 2016

Horse riding, Trekking, Photo Hunting dan sejumlah aktivitas seru lainnya ditawarkan dalam festival yang berlangsung selama enam hari tersebut.

Bukan rahasia lagi jika Indonesia Timur memiliki daya magis tersendiri dalam urusan memikat hati wisatawan. Seperti halnya Sumba, kata dan gambar seakan tak cukup mewakili pesona daerah yang secara administratif masuk dalam provinsi Nusa Tenggara Timur.

Jelajah Tanah Humba 2016, sebuah kegiatan yang dirancang Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan Way 2 East Indonesia untuk memamerkan eksotisme pulau yang memiliki kepercayaan terhadap leluhur disebut Marapu. Tak sekadar festival biasa, Jelajah Tanah Humba yang berlangsung mulai 10 hingga 15 September ini dikemas khusus bagi Anda pecinta kegiatan outdoor serta penikmat seni dan budaya.

Penjelajahan dimulai saat menapakan kaki di Bandara Umbu Mehan Kunda Waingapu, kota terbesar di Sumba. Kedatangan Anda akan disambut upacara pembukaan oleh masyarakat setempat bersama pemerintah daerah, berlanjut menyisiri kecantikan pantai Puru Kambera. Rona merah matahari tenggelam di pantai Walakiri menemani sore sambil menunggu malam untuk beristirahat di kampung adat Praiyawang, Rende.

Indahnya fajar sembari berdiri di tebing berukir dan karang bolong pantai Watuparunu menyapa hari kedua Jelajah Tanah Humba. Belajar menenun kain ikat khas Sumba yang telah mendunia, menilik warisan Megalitik kubur batu, hingga menggembala kuda dan melihat beragam kerajinan akan memperkaya khasanah anda mengenal budaya Rende disamping mencicipi uniknya kuliner setempat.

Terdengar biasa saja? Tunggu sampai Anda tiba di air terjun Gunung Meja Palindi Tana Bara. Biru mudanya air siap menenangkan tubuh yang lelah melewati medan menantang. Indahnya rumput hijau bak permadani menutupi luasnya seribu lembah Wairinding juga tersedia memanjakan mata sebelum bermalam di Waibakul.

Masih di Waibakul Sumba Tengah, sederet perhelatan seni budaya di antaranya upacara adat dari tiap kabupaten akan mengisi waktu Anda sejak pagi hingga malam. Ajang balap kuda melintasi hutan dan halang rintang, adu banteng hingga ritual tinju tradisional antarwarga perlambang menyambut masa panen atau disebut Pajura melengkapi petualangan Anda di hari ketiga.

Bukan hanya itu, berkeliling di pasar kaget mengintip roda perekonomian masyarakat sambil berbelanja kerajinan tangan seperti pernak-pernik dan makanan khas tentu memberikan kesan tersendiri. Satu yang tak ketinggalan tradisi unik nan menegangkan dimana terdapat dua kubu warga saling melempar lembing dan menunggangi kuda lokal bernama Pasola yang sayang jika dilewatkan.

Penasaran bagaimana rasanya menggunakan kuda sebagai moda transportasi? festival ini punya jawabannya. Saat menuju air terjun Matayangu, Anda bisa memilih menggunakan kuda sebagai kendaraan. Namun jika tak yakin, tersedia sepeda bahkan motor trail untuk sampai ke tempat tujuan.

Pecinta caving pasti terpuaskan saat tiba di gua Liang Bakul, destinasi wisata yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti ini menyuguhkan ornamen stalaktit dan stalagmit yang masih aktif hingga kini. Perjalanan berlanjut menelisik ritual adat Purunggu Ta Kadonga Ratu di kampung adat Lai Tarung termasuk mengunjungi kubur batu nenek matahari (Apu Ladu) di pantai Konda Malomba setelah nanti diajak mengelilingi pantai Tai Tena, tempat dimana tradisi Pasola bermula.

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru adalah spot terbaik kaum pemburu foto kehidupan alam bebas dimana terdapat 7 jenis burung dan kupu-kupu yang masing-masing adalah satwa endemik Sumba. Ditambah sensasi menaklukan jalanan terjal dengan off-road menggunakan jip menuju air terjun Laipopu pasti menyempurnakan petualangan Anda di hari keempat hingga akhirnya makan malam bersama di Waibakul.

Menikmati bias sinar surya pagi di atas bukit Waikabubak adalah moment mahal yang tak bisa dibeli. Keberuntungan ini terus terbawa hingga sampai di desa adat kampung Tarung. Sebuah perkampungan di jantung Waikabubak yang sukses mempertahankan tradisi di tengah gempuran arus modernisasi.

Setelah perut terisi, Anda diajak menguak misteri danau Weekuri. Salah satu karya agung Sang Pencipta dimana keindahan air sebening kaca berpadu dengan suasana hening menyajikan pemandangan laguna yang spektakuler.

Saat jam makan siang tiba, Anda dibawa ke kampung adat di tepi pantai bernama Ratenggaro. Kampung adat ini terasa istimewa, karena kampung ini bukan hanya menghadap langsung ke lautan Hindia tetapi lebih dari itu Ratenggaro yang berarti kubur garo di dalam area kampungnya terdapat ratusan kubur batu serta rumah adat atau dalam bahasa lokal “uma kelada” yang atapnya mencapai puluhan meter, tertingi di antara atap rumah adat lain se-Sumba.

Decak kagum tak habis untuk alam Sumba, karena setelah terpukau dengan budaya kampung Ratenggaro, pantai Mandorak adalah objek yang pasti membuat Anda enggan berpindah. Tersembunyi di Sumba Barat Daya, Mandorak dihiasi pasir putih lengkap dengan pemandangan tebing tinggi. Suasana sepi nan menenangkan sesekali terpecah oleh deru ombak yang cukup besar. Senja menjelang, saatnya sejenak beistirahat sambil mengagumi kembalinya matahari ke peraduan bersama pesona batu karang unik berbentuk cincin di pantai Bwanna atau masyarakat lokal menyebutnya pantai Banna.

Ibarat lukisan Tuhan di bumi, Sumba memang menyimpan sejumlah kekayaan alam serta budaya yang belum terjamah. Keasrian lingkungan serta ramahnya para penduduk menambah kesan mendalam saat kaki melangkah pergi meninggalkan tanah ini. Meski tak mudah menembus sejumlah destinasi, petualangan Anda terbayar lunas dengan keindahan bak nirwana yang telah tercipta ratusan juta tahun lalu. Sebagai bonus, seluruh kegiatan petualangan yang terekam oleh Anda baik melalui gambar dan tulisan akan diikutsertakan dalam kompetisi. Tak percaya? Buktikan saja!     [adv]


Surga Baru Petualang: Jelajah Tanah Humba 2016
Baca Selanjutnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar