Laman

Sabtu, 24 September 2016

Konservasi Badak TNUK Selamatkan Aset Wisata Dunia

INILAH.COM, Jakarta-WWF Indonesia menggelar serangkaian acara dalam rangka Peringatan World Rhino Day, yang jatuh pada 22 September 2016 di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).

Acara bertajuk "Bersama Kita Bisa, Selamatkan Badak Jawa" tersebut menyedot perhatian wisatawan lokal dan mancanegara.

Menurut Kepala TNUK, Mamat Rahmat, Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) adalah salah satu mamalia besar terlangka di dunia yang keberadaannya terancam punah. International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) mengkategorikannya sebagai satwa yang "sangat terancam punah" (critically endangered). Oleh karenanya, konservasi Badak di Ujung Kulon merupakan upaya untuk menyelamatkan aset dunia.

"Bersama kita bisa menyelamatkan keanekaragaman hayati khususnya Badak Jawa yang ada di Taman Nasional Ujung Kulon, Insyaallah masyarakat dan Badak mesra, semua stakeholder, semua pihak baik pusat maupun daerah bersinergi menyelamatkan Badak beserta habitatnya, serta mensejahterakan masyarakat," kata Mamat melalui siaran pers, Jumat (23/9/2016).

Acara peringatan hari badak dunia tersebut dipusatkan di Desa Taman Jaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang. Acara itu sekaligus penandatanganan deklarasi "Merayakan Keanekaragaman Hayati" yang turut dihadiri Bupati Pandeglang, Hj Irna Narulita.

Bupati Pandeglang menyambut baik deklarasi dan peringatan hari badak Nasional yang diadakan Balai TNUK, LSM serta aktivis lingkungan hidup. Hj Irna Narulita mengajak seluruh masyarakat dunia usaha dan stakeholder yang hadir untuk turut berkontribusi terkait rencana konversasi Badak Jawa dan keanekaragaman Hayati.

"Saya pernah berkunjung ke Taman Nasional Way Kambas dengan penangkaran Badak yang dikelola dengan baik dan mudah-mudahan di Pandeglang terbentuk kepengurusan Javan Rhino Study and Conservation Area (JARISCA)," katanya.

Ia berharap masyarakat Pandeglang masih bisa melihat Badak. Pun, bisa mengundang wisatawan dalam negeri serta mancanegara untuk melihat satwa liar badak bercula satu. Bupati Pandeglang tak lupa meminta dukungan seluruh pemangku kepentingan mendorong konservasi Badak Jawa yang kini hanya tinggal 63 individu.

"Saya berharap semua empati mampu menjadi magnet bagi wisatawan untuk hadir, meningkatkan Pandeglang dan JARISCA menjadi kebanggaan kami," tuturnya.

Selain Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus), rupanya kondisi Badak Sumatera (Dicerorinus sumatranus) juga tak lebih baik. Badak Jawa menghadapi masalah keterbatasan luasan habitat untuk mengakomodir pertumbuhan populasinya. Selain itu pertumbuhan Langkap (Arenga obsitulia) yang sangat cepat sehingga telah menahan ketersediaan pakan Badak Jawa.

Berdasarkan data terakhir yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jumlah Badak Jawa di habitat terakhirnya di kawasan TNUK sebanyak 63 individu. Sementara itu, Badak Sumatera diperkirakan hanya tersisa kurang dari 100 individu berdasarkan kesimpulan para ahli dalam pertemuan PHVA (Population and Habitat Viability Assessment) pada tahun 2015 lalu.

"Untuk menyelamatkan Badak Sumatera yang  semakin kritis, perlu adanya pendekatan konservasi berbasis spesies seperti yang dilakukan pada Badak Jawa," ujar Yuyun Kurniawan, Program Koordinator Proyek Ujung Kulon WWF-Indonesia. [adc]


Konservasi Badak TNUK Selamatkan Aset Wisata Dunia
Baca Selanjutnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar